Local Experiences

Desa Wisata Sungai Batang Nan Elok di Tepi Danau Maninjau

Desa ini memiliki konsep wisata alam dan budaya sekaligus punya cerita sejarah tersendiri.

Indonesia memiliki ribuan desa dengan potensi alam, tradisi, budaya, sosial, hingga kuliner yang sangat beragam. Hingga tahun 2019, menurut Badan Pusat Statistik disebutkan bahwa Indonesia memiliki 83.820 desa dengan bentuk topografi yang berbeda mulai dari lembah, lereng maupun dataran. Sementara, dengan keunikan yang dimilikinya, ada sekitar 1.200 di antaranya berpotensi menjadi desa wisata.

Desa wisata tidak hanya menarik minat wisatawan, namun juga turut membuka lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia di masa pandemi COVID-19. Salah satu yang masuk dalam daftar ajang 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, adalah Desa Wisata Sungai Batang di Sumatera Barat.

Desa Wisata Sungai Batang adalah desa yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Desa ini memiliki konsep wisata alam dan budaya sekaligus punya cerita sejarah tersendiri. Saat kawanjo berkunjung ke desa wisata ini, tak sekedar bisa menyaksikan panorama alam yang begitu elok, tapi bisa juga menginap di homestay dengan desain bangunan khas Minang, maupun menikmati kuliner khas Desa Wisata Sungai Batang.

1. Keindahan Danau Maninjau

Keindahan Danau Maninjau

Danau ini adalah danau vulkanik yang berada tepat di jantung Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kondisi alam diarea ini masih sangat terjaga keasriannya, membuat danau Maninjau memiliki udara yang sangat segar sehingga membuat paru-paru kawanjo bisa merasakan kelegaan yang tidak bisa didapatkan saat berada di perkotaan.

Danau Maninjau terbentuk akibat erupsi vulkanik Gunung Sitinjau yang terjadi kurang lebih 52.000 tahun yang lalu. Akibat erupsi maka terbentuklah kaldera baru dan berkembang menjadi sebuah danau. Terletak di ketinggian 460 meter diatas permukaan laut (mdpl), memiliki luas 100 km persegi dengan kedalaman sekitar 150 meter.

Selain menjadi danau terluas kesebelas di Indonesia, karena kejernihan airnya danau ini menjadi sumber air bagi warga setempat, yang berasal dari sebuah sungai besar, Batang Sri Antokan, dan dimanfaatkan juga untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Maninjau.

Baca juga: Jadi Juara Desa Wisata Alam, Begini Indahnya Desa Hijau Bilebante di Lombok Tengah

Salah satu spot Kelok 44 dengan view Danau Maninjau dan persawahan

Disepanjang perjalanan menuju Desa Wisata Sungai Batang kawanjo bakal terbuai keindahan ngarai (lembah), hamparan sawah hingga uniknya area Kelok 44 yaitu daerah perbukitan yang berada di di atas Danau Maninjau. Di Kelok Ampek Puluh Ampek inilah kawanjo bisa menikmati bentangan eloknya panorama alam danau Maninjau dari kejauhan.

Tak hanya itu, asal muasal danau yang berada di Desa Wisata Sungai Batang ini juga terukir dalam sebuah cerita legenda yang berkembang secara turun temurun di kalangan masyarakat setempat. Legenda ini dikenal orang dengan sebutan “Bujang Sembilan”, yang menceritakan kisah 10 bersaudara kakak beradik yang terdiri dari 9 orang bujang dan seorang gadis.

2. Menikmati Renyahnya Ikan Rinuak

Palai rinuak atau pepes rinuak dengan bumbu rempah khas Minangkabau.

Indahnya pemandangan sekitar danau Maninjau akan semakin terasa asyik dan seru, dengan menikmati renyahnya aneka olahan rinuak. Desa Sungai Batang memang berlimpah dengan hasil komoditas ikan berwarna putih kekuningan, yang dikenal dengan sebutan rinuak. Rinuak (Psilopsis sp) adalah jenis ikan air tawar berukuran sangat kecil yang merupakan hewan endemik Danau Maninjau.

Untuk menikmati rinuak, kawanjo bisa singgah di Perkampungan Kuliner Nagari Gasan, Kecamatan Tanjung Raya. Oleh warga sekitar, rinuak diolah menjadi berbagai penganan ringan yang gurih dan renyah, ada palai rinuak, bakwan rinuak, dendeng rinuak dan olahan lainnya. Palai rinuak sangat cocok jika dimakan bersama nasi putih hangat, sembari kawanjo menikmati indahnya panorama alam dari tepi Danau Maninjau yang dikelilingi pegunungan.

3. Musem Rumah Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Perjalanan ke Danau Maninjau rasanya tidak lengkap tanpa berkunjung ke rumah kelahiran seorang ulama besar asal Minangkabau, bernama Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal luas dengan sapaan Buya Hamka.

Kini rumah tersebut dikenal sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, berjarak sekitar 4 kilometer dari jalan utama menyusuri Danau Maninjau. Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Buya Hamka yang juga dikenal sebagai sastrawan, jurnalis, ahli tafsir, politisi sekaligus seorang Pahlawan Nasional.

Dari sekitar 118 judul buku yang pernah Buya Hamka tulis semasa hidupnya, sekitar 28 judul dapat kawanjo lihat diantara koleksi buku di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini. Sementara, pada tahun 2021 museum ini masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) untuk kategori situs peninggalan sejarah terpopuler.

Itulah gambaran betapa eloknya Desa Wisata Sungai Batang di tepi Danau Maninjau. Jika kawanjo ingin menikmati keindahan alam Indonesia dengan paket wisata pilihan, klik aja di sini

Baca juga: Cari Tempat Ngetrip yang Sejuk di Surabaya,? Ada Kok, Seru Lagi

0 comments on “Desa Wisata Sungai Batang Nan Elok di Tepi Danau Maninjau

Leave a Reply

%d bloggers like this: