Local Experiences

Wisata Bahari di Kawasan Timur, Menyelam Bersama Hiu Berjalan

Hiu jinak, sekaligus merupakan hewan langka yang harus dilindungi

Wisata bahari adalah aktivitas yang seru sekaligus jadi salah satu wisata unggulan yang dimiliki Indonesia. Garis pantai Indonesia membentang sejauh 99.093 km dengan luas laut 3,257 juta km persegi, tak heran jika Indonesia memiliki 20,87 juta hektar kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil dengan beragam fauna dan flora laut di dalamnya yang bisa jadi tak ditemukan di negara lain.

Snorkeling maupun menyelam menjelajahi alam bawah laut jadi aktivitas yang banyak diminati berbagai kalangan. Jika kawanjo ngetrip di kawasan Indonesia Timur, maka bisa menikmati aktivitas snorkeling maupun menyelam (diving) bersama hiu berjalan. Tenang, jangan panik dulu kawanjo, hiu yang satu ini penampilannya tak seganas hiu yang biasa ada di film-film.

Ukuran tubuh hiu berjalan lebih kecil dari ukuran tubuh hiu pada umumnya, jadi aman untuk didekati. Selain itu, kawanjo tak perlu menyelam terlalu dalam, cukup melakukan snorkeling atau berperahu di perairan dangkal, hiu berjalan akan mudah dijumpai. Keberadaan hiu tersebut biasanya ada di perairan yang dangkal yang biasa menjadi tempat wisata bahari.

Apa itu Hiu Berjalan?

Anakan hiu berjalan

Para peneliti menyebutnya walking shark, sebenarnya hiu ini bisa berenang namun dia lebih suka ‘berjalan’ menggunakan sirip pektoral dan sirip pelvis mereka di atas coral atau dasar laut untuk mencari makan. Hiu berjalan tergolong hiu yang jinak, bentuk gigi mereka juga berbeda dengan gigi hiu pemakan ikan pada umumnya.

Secara taksonomi hiu jenis ini sering juga disebut dengan hiu bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam genus Hemiscyllium. Tapi ada juga yang menyebutnya hiu tokek, lantaran mempunyai beragam pola warna pada tubuhnya sesuai dengan spesiesnya.

Dari 9 spesies hiu berjalan yang ada di dunia, ternyata enam spesies ada di Indonesia dan 4 spesies diantaranya adalah hewan endemik Indonesia. Hiu endemik Indonesia ini termasuk jenis hiu langka dan tidak ditemukan di perairan belahan dunia lain.

Hiu berjalan Halmahera (foto: Adita Agoes)

Hiu endemik atau hanya ada dan bisa ditemukan di Indonesia yaitu: Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (Hemiscyllium galei), Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (Hemiscyllium henryi).

Sementara dua spesies lainnya yakni Hemiscyllium trispeculare dan Hemiscyllium ocellatum bisa ditemukan di perairan Aru Maluku dan Selatan Papua, namun bisa ditemukan juga di pantai utara dan barat kawasan Australia dan Papua Nugini.

Inilah 6 spesies hiu berjalan yang bisa kawanjo temui saat snokeling atau menyelam di wilayah Indonesia Timur.

Baca juga : Inilah Bidadari yang Menyukai Olahraga Ekstrem, Termasuk Rafting

1. Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti)

Hiu berjalan Raja Ampat

Hiu berjalan Raja Ampat atau Hiu Karpet Bintik (Indonesian speckled carpetshark), adalah spesies hiu berjalan endemik Indonesia. Hidup di perairan Raja Ampat, Papua Barat, ditemukan sekitar tahun 1824. Hiu berukuran 64 cm ini punya kulit cokelat berbintik, mirip seperti macan tutul. Hiu yang suka makan hewan kecil ini hidup di perairan dangkal dengan kedalaman 1-12 meter.

2. Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (Hemiscyllium galei)

Hiu berjalan Cendrawasih

Hiu berjalan Cendrawasih ini ditemukan pertama kali pada tahun 2006 di Teluk Cendrawasih Papua Barat oleh ilmuwan Mark Erdmann dari Consercation International. Hiu berjalan endemik Indonesia ini, tinggal di sekitar terumbu karang yang ada di kedalaman 2-4 meter, termasuk hewan nokturnal. Nah, jika kawanjo ingin melihat hiu yang satu ini, harus melakukan penyelaman atau snorkeling di malam hari.

3. Hiu Berjalan Halmahera (Hemiscyllium halmahera)

Hiu berjalan Halmahera

Hiu berjalan Halmahera hidup di perairan Halmahera, Maluku Utara, merupakan hiu endemik Indonesia. Secara resmi, hiu berjalan Halmahera diumumkan sebagai spesies baru lewat publikasi di Journal of Ichtyology yang terbit pada Juli 2013. Dengan ukuran panjang tubuh 70 cm, ia suka sekali makan kepiting, udang, dan moluska.

4. Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (Hemiscyllium henryi)

Hiu berjalan Teluk Triton Kaimana

Hiu berjalan Teluk Triton Kaimana, ditemukan di perairan Kaimana, Papua Barat bagian Selatan pada tahun 2008, merupakan hiu berjalan endemik Indonesia. Hiu yang berukuran panjang tubuh sekitar 81,5 cm ini hidup di kedalaman 3-30 meter, lebih dalam daripada jenis hiu berjalan lainnya. Tapi tetap memilih terumbu karang untuk dijadikan rumahnya.

5. Hemiscyllium trispeculare

Hemiscyllium trispeculare

Hiu berjalan yang satu ini hidup di perairan Maluku Utara. Namun, spesies ini tidak masuk hewan endemik Indonesia, karena bisa ditemukan juga di pantai utara dan barat Australia maupun pantai Papua Nugini bagian timur.

6. Hemiscyllium ocellatum

Hemiscyllium ocellatum

Hiu berjalan jenis ini tersebar di selatan perairan Papua. Tapi spesies ini tidak masuk hewan endemik Indonesia, karena bisa ditemukan juga di pantai utara Australia maupun pantai Papua Nugini.

Apapun aktivitas yang kawanjo lakukan saat berwisata bahari, jangan pernah merusak terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat hiu berjalan memijah. Kerusakan habitat dapat mengancam kelestarian hiu berjalan maupun ekosistem di laut. Yuk, cek paket menarik wisata bahari di sini

Baca juga: Yuk Ngetrip ke Pulau Morotai, Wisata Seru di Indonesia Bagian Timur

0 comments on “Wisata Bahari di Kawasan Timur, Menyelam Bersama Hiu Berjalan

Leave a Reply

%d bloggers like this: