Local Experiences

8 Alasan Mesti Ngetrip ke Takengon

Yuk kita intip pesona tersembunyi Kabupaten Takengon, Aceh Tengah!

Sebelumnya, apakah kawanjo sudah pernah mendengar tentang Kabupaten Aceh Tengah? Kabupaten Aceh Tengah merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dengan ibu kota bernama Takengon. Takengon ini sebuah kota kecil yang hawanya sejuk banget, jika tidak mau dikatakan dingin maksimal, karena letaknya berada di salah satu bagian Pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatra.

Nah, bicara tentang Takengon, kita mau kasih tahu nih, apa aja pesona Kabupaten Takengon yang ada di Aceh Tengah. Simak yuk!

1. Suku Gayo

Ngetrip ke Takengon
Suku Gayo yang merupakan suku asli Kabupaten Takengon

Kawanjo tahu nggak nih, kalau Suku Gayo ini merupakan suku asli Kabupaten Takengon Aceh Tengah? Suku ini merupakan suku asli terbesar kedua di Aceh setelah Suku Aceh asli yang mendiami wilayah pesisir. Suku Gayo menggunakan bahasa sehari-hari yang disebut bahasa Gayo. Bahasa Gayo ini berbeda dengan bahasa Suku Aceh ya Kawanjo.

Konon, Suku Gayo merupakan penduduk asli pertama yang mendiami tanah Serambi Mekkah atau Aceh. Ada banyak pendapat mengenai asal usul nama Gayo. Yang pertama, kata Gayo berasal dari bahasa Batak Karo yang berarti kepiting. Lalu ada pula yang berpendapat kata “Gayo” berasal dari Bahasa Aceh, “Ga” yang berarti sudah dan “Yo” yang berarti lari/takut.

Adapun Gayo dalam Bahasa Sansekerta berarti gunung nih kawanjo. Bisa diartikan bahwa masyarakat Gayo berasal dari daerah pegunungan. Selain itu, dalam buku yang berjudul ‘The Travel of Marcopolo’ karya Marcopolo, seorang pengembara bangsa Italia yang menyematkan kata drang-gayu yang artinya orang Gayu/Gayo.

Suku Gayo sendiri terdiri atas tiga kelompok nih kawanjo, yaitu masyarakat Gayo Lut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara, serta Gayo Serbejadi yang mendiami sebagian kecamatan di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

2. Kopi Khas Takengon (Kopi Gayo)

Ngetrip ke Takengon
Kopi Gayo, salah satu jenis kopi yang mendunia.

Kawanjo sebelumnya sudah pernah coba kopi Gayo? Kalo sudah, coba ceritakan apa keunikan rasa dari minuman satu ini di kolom komentar ya. Kopi Gayo ini memiliki perbedaan rasa, dan tahukah Kawanjo kalau di dalamnya terdapat kandungan antitoksin, penambah stamina tubuh dan dapat mengencangkan kulit.

Cita rasa Kopi Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa Kopi Gayo melebihi cita rasa Kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Kopi Gayo ini dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo.

Kopi Gayo dinilai sangat spesial karena Kawanjo belum tentu menemukan kopi senikmat Kopi Gayo di jenis kopi lain yang ada di Indonesia. Hal menarik saat menikmati kopi di Aceh adalah dengan bersantai dan berbincang dengan teman atau kerabat. Bagi Kawanjo yang mengaku pecinta kopi harus banget nih cobain jenis kopi yang satu ini.

Baca juga: Yuk, Ngetrip ke 10 Tempat Bagus di Blitar, Kotanya Proklamator!

3. Danau Laut Tawar

Ngetrip ke Takengon
Danau Laut Tawar yang menyimpan panorama menawan.

Masyarakat setempat menyebut danau ini dengan sebutan Danau Laut Tawar. Secara geologi, danau ini memiliki luas 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³.  Di danau ini hidup berbagai macam hewan air tawar seperti ikan dan udang. Konon di sekitar danau juga masih banyak habitat satwa langka seperti trenggiling, landak, siamang, kijang, kucing hutan dan harimau.

Danau Laut Tawar menawarkan sensasi danau yang mirip dengan lautan, Kawanjo yang berwisata ke tempat ini bisa melihat adanya ombak-ombak kecil yang sesekali menyapa ke tepi danau. Keindahan panorama alam berupa perbukitan hijau yang berada di sekitar danau juga menambah suasana alami serta nyaman untuk dipandang.

Tak hanya menyimpan panorama alam yang menawan, Danau Laut Tawar juga merupakan salah satu elemen penting dalam roda perekonomian masyarakat Aceh Tengah khususnya yang berada di sekitar danau. Lebih dari 20 sungai bermuara di danau ini, serta menjadi sumber irigasi utama untuk lahan pertanian dan perkebunan warga setempat. Selain itu, destinasi wisata satu ini juga dibalut beberapa kisah misteri yang membuat bulu kuduk berdiri.

4. Pantan Terong

Ngetrip ke Takengon
Melihat pemandangan alam Takengon yang menakjubkan di Pantan Terong.

Pantan Terong merupakan destinasi wisata di Aceh Tengah yang letaknya di puncak bukit. Pantan Terong berada di ketinggian 1.830 meter di atas permukaan laut. Maka Kawanjo bisa dengan leluasa menikmati keindahan alam yang terpampang jelas dari puncak bukit. Otomatis tempat ini menawarkan pemandangan alam yang begitu memesona, kombinasi perbukitan, Kota Takengon, dan Danau Laut Tawar dari ketinggian.

Selain dimanjakan dengan keindahan alam sekitar berupa perbukitan hijau, danau, sawah serta perkebunan milik warga, Kawanjo bisa menikmati udara yang dingin dan sejuk berkat alam yang begitu terjaga.

Saat menuju ke Pantan Terong, Kawanjo akan disuguhkan panorama alam berupa perbukitan hijau di sepanjang perjalanan. Kawanjo juga akan menjumpai hutan pinus, dan lembah-lembah indah saat menuju puncak. Di pinggir jalan, Kawanjo akan menjumpai warung-warung yang bisa digunakan untuk istirahat serta menikmati secangkir kopi gayo panas untuk menghangatkan badan.

5. Kuliner Khas Takengon, Gutel

Ngetrip ke Takengon
Makanan khas Takengon yang cocok disuguhkan dengan Kopi Gayo

Makanan Khas Takengon bernama Gutel ini terbuat dari bahan alami jadi mampu bertahan selama beberapa hari. Gutel terbuat dari tepung beras, kelapa, gula pasir atau gula merah, yang dicampur air  lalu dibalut dengan pandan.                                    

Sekarang ini makanan Gutel kembali dilestarikan dan dijual di pasar-pasar tradisional yang ada di Takengon, sebagai kudapan pendamping Kopi Gayo. Bagi masyarakat dataran tinggi Tanoh Gayo, Gutel merupakan makanan peninggalan nenek moyang, bisa nih kalau kawanjo berkunjung ke Takengon, coba makanan yang satu ini.

6. Kuliner Khas Takengon: Masam Jing

Ngetrip ke Takengon
Makanan khas Takengon dengan cita rasa asam pedas.

Makanan khas Takengon yang kedua adalah Masam Jing atau asam pedas. Sajian ini dikenal sebagai Asam Keueung, sedangkan orang Minang menyebutnya sebagai asam padeh. Namun, Masam Jing ini memiliki cita rasa yang khas di daerah Dataran Tinggi Gayo.

Ikan yang digunakan di masakan ini beragam mulai dari Ikan Bawal, Ikan Mujair, Lele, Gabus, Lemeduk, Bandeng, Gegaring hingga Depik yang berpadu dengan racikan bumbu kental dengan melalui proses pengolahan yang khas. Maka, tak heran jika rasanya pun unik.

Rasa dari makanan ini mirip dengan pepes ikan, tapi tidak dimasak menggunakan daun melainkan dimasak seperti pembuatan gulai dan berkuah. Cita rasa dari Masam Jing ini adalah asam karena menggunakan air jeruk dan sedikit asam sunti sehingga memiliki rasa otentik. Nah kawanjo yang suka makanan dengan rasa pedas dan asam boleh banget nih nyobain makanan yang satu ini. 

Baca juga: Memburu 5 Kuliner Tradisional, Pecinta Pedas Wajib Tahu

7. Tari Saman

Ngetrip ke Takengon
Makanan khas Takengon dengan cita rasa asam pedas.

Siapa sih yang nggak tahu Tari Saman, Kawanjo pasti sudah sering dengar kan? Tari Saman adalah salah satu tari tradisional asal Indonesia yang cukup dikenal mancanegara. Tarian suku dataran tinggi Takengon ini biasa ditampilkan ketika perayaan peristiwa-peristiwa penting pada acara adat.

Bukti lain Tari Saman berasal dari Takengon adalah penggunaan syair salah satu tarian dari 34 tari tradisional asal Indonesia ini menggunakan Bahasa Gayo. Tari Saman dikembangkan oleh Syekh Saman yang merupakan seorang ulama asal Gayo di Aceh Tenggara.

Pada 24 November 2011, Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

8. Tari Guel

Ngetrip ke Takengon
Tarian adat Takengon yang memiliki banyak seni.

Tari Guel adalah salah satu tarian adat suku Gayo loh Kawanjo. Kata “guel” memiliki arti membunyikan. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari, tarian ini merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri. Tari guel adalah bentuk apresiasi terhadap wujud alam, lingkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama.

Pertunjukan Tari Guel sering ditemui pada saat upacara perkawinan di Tanah Gayo. Tari guel dibagi dalam empat babakan baku yaitu babak I natap, babak II dep, babak III ketibung, babak IV cincang nangka. Ragam gerak atau gerak dasar adalah salam semah (Munatap ), kepur nunguk, sining lintah, semer kaleng (sengker kalang), dah-papan.

Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( wanita ), 2-4 ( pria ). Tari guel memang unik, bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa.

Ini dia Kawanjo, beberapa pesona yang ada di Takengon, Aceh Tengah yang pastinya masih banyak lagi nih. Bagi Kawanjo yang sudah pernah pergi ke tempat-tempat wisata di Takengon dan sudah pernah coba makanan khasnya boleh dong berbagi cerita. Bagi yang belum, mungkin bisa menjadi referensi trip kawanjo nih ke daerah Takengon, Aceh Tengah. Buat kawanjo yang mau liburan bisa banget nih cek paket wisata di sini. Selamat mencoba!

Baca Juga : Jelang Akhir Tahun, Berikut 5 Tempat Baru di Jakarta yang Layak Kamu Kunjungi

Penulis : Ikhsani Sholehah

0 comments on “8 Alasan Mesti Ngetrip ke Takengon

Leave a Reply

%d bloggers like this: